PETUNJUK PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN RAYA DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN

Untuk Download  PETUNJUK PERENCANAAN TEBAL PERKERASAN LENTUR JALAN RAYA DENGAN METODE ANALISA KOMPONEN BINA MARGA 1987 bisa di link berikut ini

–Download —

Iklan

JENIS – JENIS PERKERASAN JALAN

STRUKTUR PERKERASAN

Pada umumnya, perkerasan jalan terdiri dari beberapa jenis lapisan perkerasan yang tersusun dari bawah ke atas,sebagai berikut :
• Lapisan tanah dasar (sub grade)
• Lapisan pondasi bawah (subbase course)
• Lapisan pondasi atas (base course)
• Lapisan permukaan / penutup (surface course)

a1
Gambar 1. Lapisan perkerasan jalan lentur

Terdapat beberapa jenis / tipe perkerasan terdiri :
a. Flexible pavement (perkerasan lentur).
b. Rigid pavement (perkerasan kaku).
c. Composite pavement (gabungan rigid dan flexible pavement).

PERKERASAN LENTUR

  • Jenis dan fungsi lapisan perkerasan
    Lapisan perkerasan jalan berfungsi untuk menerima beban lalu-lintas dan menyebarkannya ke lapisan di bawahnya terus ke tanah dasar
  • Lapisan Tanah Dasar (Subgrade)
    Lapisan tanah dasar adalah lapisan tanah yang berfungsi sebagai tempat perletakan lapis perkerasan dan mendukung konstruksi perkerasan jalan diatasnya. Menurut Spesifikasi, tanah dasar adalah lapisan paling atas dari timbunan badan jalan setebal 30 cm, yang mempunyai persyaratan tertentu sesuai fungsinya, yaitu yang berkenaan dengan kepadatan dan daya dukungnya (CBR).
    Lapisan tanah dasar dapat berupa tanah asli yang dipadatkan jika tanah aslinya baik, atau tanah urugan yang didatangkan dari tempat lain atau tanah yang distabilisasi dan lain lain
    Ditinjau dari muka tanah asli, maka lapisan tanah dasar dibedakan atas :
    • Lapisan tanah dasar, tanah galian.
    • Lapisan tanah dasar, tanah urugan.
    • Lapisan tanah dasar, tanah asli.
    Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat-sifat dan daya dukung tanah dasar.
    Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut :
    • Perubahan bentuk tetap (deformasi permanen) akibat beban lalu lintas.
    • Sifat mengembang dan menyusutnya tanah akibat perubahan kadar air.
    • Daya dukung tanah yang tidak merata akibat adanya perbedaan sifat-sifat tanah pada lokasi yang berdekatan atau akibat kesalahan pelaksanaan misalnya kepadatan yang kurang baik.
  • Lapisan Pondasi Bawah (Subbase Course)
    Lapis pondasi bawah adalah lapisan perkerasan yang terletak di atas lapisan tanah dasar dan di bawah lapis pondasi atas. Lapis pondasi bawah ini berfungsi sebagai :
    • Bagian dari konstruksi perkerasan untuk menyebarkan beban roda ke tanah dasar.
    • Lapis peresapan, agar air tanah tidak berkumpul di pondasi.
    • Lapisan untuk mencegah partikel-partikel halus dari tanah dasar naik ke lapis pondasi atas.
    • Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari beban roda-roda alat berat (akibat lemahnya daya dukung tanah dasar) pada awal-awal pelaksanaan pekerjaan.
    • Lapis pelindung lapisan tanah dasar dari pengaruh cuaca terutama hujan.
  • Lapisan pondasi atas (base course)
    Lapisan pondasi atas adalah lapisan perkerasan yang terletak di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan. Lapisan pondasi atas ini berfungsi sebagai :
    • Bagian perkerasan yang menahan gaya lintang dari beban roda dan menyebarkan beban ke lapisan di bawahnya.
    • Bantalan terhadap lapisan permukaan.
    Bahan-bahan untuk lapis pondasi atas ini harus cukup kuat dan awet sehingga dapat menahan beban-beban roda. Dalam penentuan bahan lapis pondasi ini perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain, kecukupan bahan setempat, harga, volume pekerjaan dan jarak angkut bahan ke lapangan.
  • Lapisan Permukaan (Surface Course)
    Lapisan permukaan adalah lapisan yang bersentuhan langsung dengan beban roda kendaraan. Lapisan permukaan ini berfungsi sebagai :
    • Lapisan yang langsung menahan akibat beban roda kendaraan.
    • Lapisan yang langsung menahan gesekan akibat rem kendaraan (lapisaus).
    • Lapisan yang mencegah air hujan yang jatuh di atasnya tidak meresap ke lapisan bawahnya dan melemahkan lapisan tersebut.
    • Lapisan yang menyebarkan beban ke lapisan bawah, sehingga dapat dipikul oleh lapisan di bawahnya.
    Apabila dperlukan, dapat juga dipasang suatu lapis penutup / lapis aus (wearing course) di atas lapis permukaan tersebut.
    Fungsi lapis aus ini adalah sebagai lapisan pelindung bagi lapis permukaan untuk mencegah masuknya air dan untuk memberikankekesatan (skid resistance) permukaan jalan. Apis aus tidak diperhitungkan ikut memikul beban lalu lintas.
  • Kelebihan jalan aspal
·         Jalan lebih halus, mulus, dan tidak bergelombang sehingga enak dalam berkendara.
·         Warna hitam aspal mempengaruhi psikologi pengendara menjadi lebih teduh dan nyaman
·         Untuk penggunaan pada jalan dengan lalu lintas kendaraan ringan, jalan aspal lebih murah dibanding konstruksi jalan beton.
·         Proses perawatan lebih mudah karena tinggal mengganti pada area yang rusak saja, dengan cara mengganti dengan yang baru pada area jalan yang rusak.
  • Kekurangan jalan aspal
·         Tidak tahan terhadap genangan air, sehingga memerlukan saluran drainase yang baik untuk proses pengeringan jalan aspal pasca hujan atau banjir

·         Pada struktur tanah yang buruk harus dilakukan perbaikan tanah terlebih dahulu sebelum ditumpangi oleh konstruksijalan aspal.

PERKERASAN KAKU

Perkerasan jalan beton semen atau secara umum disebut perkerasan kaku, terdiri atas plat (slab) beton semen sebagai lapis pondasi dan lapis pondasi bawah (bisa juga tidak ada) di atas tanah dasar. Dalam konstruksi perkerasan kaku, plat beton sering disebut sebagai lapis pondasi karena dimungkinkan masih adanya lapisan aspal beton di atasnya yang berfungsi sebagai lapis permukaan.
Perkerasan beton yang kaku dan memiliki modulus elastisitas yang tinggi, akan mendistribusikan beban ke bidang tanah dasra yang cukup luas sehingga bagian terbesar dari kapasitas struktur perkerasan diperoleh dari plat beton sendiri. Hal ini berbeda dengan perkerasan lentur dimana kekuatan perkerasan diperoleh dari tebal lapis pondasi bawah, lapis pondasi dan lapis permukaan.
Karena yang paling penting adalah mengetahui kapasitas struktur yang menanggung beban, maka faktor yang paling diperhatikan dalam perencanaan tebal perkerasan beton semen adalah kekuatan beton itu sendiri. Adanya beragam kekuatan dari tanah dasar dan atau pondasi hanya berpengaruh kecil terhadap kapasitas struktural perkerasannya.
Lapis pondasi bawah jika digunakan di bawah plat beton karena beberapa pertimbangan, yaitu antara lain untuk menghindari terjadinya pumping, kendali terhadap sistem drainasi, kendali terhadap kembang-susut yang terjadi pada tanah dasar dan untuk menyediakan lantai kerja (working platform) untuk pekerjaan konstruksi.
Secara lebih spesifik, fungsi dari lapis pondasi bawah adalah :
• Menyediakan lapisan yang seragam, stabil dan permanen.
• Menaikkan harga modulus reaksi tanah dasar (modulus of sub-grade reaction = k), menjadi modulus reaksi gabungan (modulus of composite reaction).
• Mengurangi kemungkinan terjadinya retak-retak pada plat beton.
• Menyediakan lantai kerja bagi alat-alat berat selama masa konstruksi.
Menghindari terjadinya pumping, yaitu keluarnya butir-butiran halus tanah bersama air pada daerah sambungan, retakan atau pada bagian pinggir perkerasan, akibat lendutan atau gerakan vertikal plat beton karena beban lalu lintas, setelah adanya air bebas terakumulasi di bawah pelat.
Pemilihan penggunaan jenis perkerasan kaku dibandingkan dengan perkerasan lentur yang sudah lama dikenal dan lebih sering digunakan, dilakukan berdasarkan keuntungan dan kerugian masing-masing jenis perkerasan tersebut seperti dapat dilihat pada Tabel 1.3.

Perkembangan perkerasan kaku

Pada awal mula rekayasa jalan raya, plat perkerasan kaku dibangun langsung di atas tanah dasar tanpa memperhatikan sama sekali jenis tanah dasar dan kondisi drainasenya. Pada umumnya dibangun plat beton setebal 6 – 7 inch. Dengan bertambahnya beban lalu-lintas, khususnya setelah Perang Dunia ke II, mulai disadari bahwa jenis tanah dasar berperan penting terhadap unjuk kerja perkerasan, terutama sangat pengaruh terhadap terjadinya pumping pada perkerasan. Oleh karena itu, untuk selanjutnya usaha-usaha untuk mengatasi pumping sangat penting untuk diperhitungkan dalam perencanaan.
Pada periode sebelumnya, tidak biasa membuat pelat beton dengan penebalan di bagian ujung / pinggir untuk mengatasi kondisi tegangan struktural yang sangat tinggi akibat beban truk yang sering lewat di bagian pinggir perkerasan.
Kemudian setelah efek pumping sering terjadi pada kebanyakan jalan raya dan jalan bebas hambatan, banyak dibangun konstruksi pekerasan kaku yang lebih tebal yaitu antara 9 – 10 inch.
Guna mempelajari hubungan antara beban lalu-lintas dan perkerasan kaku, pada tahun 1949 di Maryland USA telah dibangun Test Roads atau Jalan Uji dengan arahan dari Highway Research Board, yaitu untuk mempelajari dan mencari hubungan antara beragam beban sumbu kendaraan terhadap unjuk kerja perkerasan kaku.
Perkerasan beton pada jalan uji dibangun setebal potongan melintang 9 – 7 – 9 inch, jarak antara siar susut 40 kaki, sedangkan jarak antara siar muai 120 kaki. Untuk sambungan memanjang digunakan dowel berdiameter 3/4 inch dan berjarak 15 inch di bagian tengah. Perkerasan beton uji ini diperkuat dengan wire mesh.
Tujuan dari program jalan uji ini adalah untuk mengetahui efek pembebanan relatif dan konfigurasi tegangan pada perkerasan kaku. Beban yang digunakan adalah 18.000 lbs dan 22.400 pounds untuk sumbu tunggal dan 32.000 serta 44.000 pounds pada sumbu ganda. Hasil yang paling penting dari program uji ini adalah bahwa perkembangan retak pada pelat beton adalah karena terjadinya gejala pumping. Tegangan dan lendutan yang diukur pada jalan uji adalah akibat adanya pumping.
Selain itu dikenal juga AASHO Road Test yang dibangun di Ottawa, Illinois pada tahun 1950. Salah satu hasil yang paling penting dari penelitian pada jalan uji AASHO ini adalah mengenai indeks pelayanan. Penemuan yang paling signifikan adalah adanya hubungan antara perubahan repetisi beban terhadap perubahan tingkat pelayanan jalan. Pada jalan uji AASHO, tingkat pelayanan akhir diasumsikan dengan angka 1,5 (tergantung juga kinerja perkerasan yang diharapkan), sedangkan tingkat pelayanan awal selalu kurang dan 5,0.

Jenis-jenis perkerasan jalan beton semen

Berdasarkan adanya sambungan dan tulangan plat beton perkerasan kaku, perkerasan beton semen dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis sebagai berikut :

• Perkerasan beton semen biasa dengan sambungan tanpa tulangan untuk kendali retak.
• Perkerasan beton semen biasa dengan sambungan dengan tulangan plat untuk kendali retak. Untuk kendali retak digunakan wire mesh diantara siar dan penggunaannya independen terhadap adanya tulangan dowel.
• Perkerasan beton bertulang menerus (tanpa sambungan). Tulangan beton terdiri dari baja tulangan dengan prosentasi besi yang relatif cukup banyak (0,02 % dari luas penampang beton).

Pada saat ini, jenis perkerasan beton semen yang populer dan banyak digunakan di negara-negara maju adalah jenis perkerasan beton bertulang menerus.

Kelebihan Jalan Beton
·         Dapat menahan beban kendaraan yang berat
·         Tahan terhadap genangan air dan banjir
·         Biaya perawatan lebih murah dibanding jalan aspal
·         Dapat digunakan pada struktur tanah lemah tanpa perbaikan struktur tanahnya terlebih dahulu
·         Pengadaan material lebih mudah didapat
Kekurangan jalan beton
·         Kualitas jalan beton sangat bergantung pada proses pelaksanaannya misal pengeringan yang terlalu cepat dapat menimbulkan keretakan jalan, untuk mengatasi hal ini dapat menambahkan zat kimia pada campuran beton atau dengan menutup beton pasca pengecoran dengan kain basah untuk memperlambat proses pengeringan
·         Untuk penggunaan pada jalan rayadengan kapasitas berat kendaraan yang tinggi, maka biaya konstruksi jalan beton lebih mahal dibanding jalan aspal, namun lebih murah pada masa perawatan.
·         Kehalusan dan gelombang jalan sangat ditentukan pada saat proses pengecoran sehingga diperlukan pengawasan yang ketat.
·         Proses perbaikan jalan dengan cara menumpang pada konstruksi jalan beton yang lama, sehingga menaikan ketinggian elevasi jalan, sehingga terkadang elevasi jalan lebih tinggi dibanding rumah di sampingnya.

·         Warna beton membuat suasana jalan menjadi keras dan gersang shingga menimbulkan efek kehati-hatian bagi pengendara di atasnya.

PERKERASAN KOMPOSIT

Perkerasan komposit merupakan gabungan konstruksi perkerasan kaku (rigid pavement) dan lapisan perkerasan lentur (flexible pavement) di atasnya, dimana kedua jenis perkerasan ini bekerja sama dalam memilkul beban lalu lintas. Untuk ini maka perlua ada persyaratan ketebalan perkerasan aspal agar mempunyai kekakuan yang cukup serta dapat mencegah retak refleksi dari perkerasan beton di bawahnya.
Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bagian lain.
Konstruksi ini umumnya mempunyai tingkat kenyamanan yang lebih baik bagi pengendara dibandingkan dengan konstruksi perkerasan beton semen sebagai lapis permukaan tanpa aspal.

Tabel 1.3. : Perbedaan antara Perkerasan Kaku dengan Perkerasan Lentur.
a3
a4

Peta Jaringan Trayek/Rute Bus Trans-Jogja

Berikut gambar jalur/rute atau jaringan trayek Trans-Jogja. Silakan didownload/copy (catatan : untuk mempublikasikan kembali dimohon menyertakan sumbernya) :

Peta Jaringan Trayek TransJogja

Catatan : untuk peta trayek Trans-Jogja terbaru lihat di sini.

(digambar dan diolah oleh Rizki Beo dan Lazuardi)

 

Sumber

Software KAJI 1997

KAJI 1997

Software KAJI (Kapasitas Jalan Indonesia) 1997 adalah piranti lunak yang digunakan untuk menerapkan metoda perhitungan yang dikembangkan MKJI (Manual Kapasitas Jalan Indonesia) 1997 yang bertujuan menganalisis kapasitas dan kinerja fasilitas lalulintas jalan (misalnya ruas jalan, simpang bersinyal, simpang tak bersinyal, dll).
Karena banyaknya permintaan mengenai software Kaji 1997, maka berikut ini saya unggah software Kaji 1997, agar dapat dipergunakan oleh seluruh mahasiswa yang sedang Tugas Akhir atau mengikuti mata kuliah Manajemen Lalu Lintas atau Rekayasa Lalu Lintas.
Software dapat didownload —->> di sini.

Sumber

UU, PP, KepMen

Bagi yang ingin mempelajari atau mengetahui Undang-undang, Peraturan Pemerintah atau Keputusan Mentri yang berkaitan dengan transportasi dapat mendownload dari bahan yang ditampilkan disini:

A. Undang – Undang :

1. UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ

2. UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan

 

B. Peraturan Pemerintah :

1. PP No  34 tahun 2006 ttg-jalan.

2. PP No 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan

3. PP No 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalulintas Jalan

4. PP No. 44 Tahun 1993 tentang Kendaraan dan Pengemudi.

 

C. Keputusan Menteri :

1. KM No 35 Tahun 2003 ttg Penyelenggaraan Angkutan Orang di Jalan dengan Kendaraan Umum

2. KM No 89 Tahun 2002 tentang Mekanisme Tarif dan Biaya Pokok Angkutan Umum Antar Kota Kelas Ekonomi

3. KM No 31 Tahun 1995 tentang Terminal Transportasi Jalan

4. KM No 69 Tahun 1993 tentang Angkutan Barang

5. KM No. 60 Tahun 1993 tentang Marka Jalan.

6. KM No. 14 Tahun 2006 tentang Manajemen dan Rekayasa Lalulintas di Jalan.

 

D. Keputusan Direktur Jenderal :

1. SK Dirjen Hubdat No 687 Th 2002 ttg Pedoman Teknis Penyelenggaraan Angkutan Penumpang Umum di Wil Perkotaan dalam Trayek Tetap dan Teratur

2. SK Dirjen No 271 Th 1996 tentang Pedoman Teknis Perekayasaan Tempat Perhentian Kendaraan Penumpang Umum

3. SK Dirjen No 727 Tahun 2004 tentang Pengangkutan Barang Umum di Jalan

4. Peraturan Dirjen Hubdat No 967/2007 tentang Petunjuk Teknis Angkutan Sekolah

5. pd 10 perencanaan-konstruksi-jalan-rel2

Ebook – Perencanaan Jalan

 

 

 

Katalog :
Perencanaan Jalan

Penerbit -, -, –

Deskripsi : Abutment Jembatan, Dasar-dasar Perencanaan Jalan Raya, Tatacara Pelapisan Ulang dengan Campuran Aspalemulsi.

Jumlah : 79 hal. – 1863 KB

 

UNDUH

 

Sumber

Ebook – Dasar dasar Perencanaan Geometrik Jalan

Judul Buku : Dasar dasar Perencanaan Geometrik Jalan
Penulis : Silvia Sukirman
Penerbit : Nova, Bandung
Tahun : 1999
Bahasa : Bahasa Indonesia
Halaman : 206 h
Format File : pdf
Ukuran File : 7.690 MB

Deskripsi :

- Penampang Melintang Jalan
    - Parameter Perencanaan Geometrik Jalan
    - Alinyemen Horizontal
    - Aliityemen Vertikal
    - Koordinasi Alinydmen Vertikal Dan Alinyemen Hortzontal Secara Terpadu
    - Penomoran (Stationing) Panjang Jalan

Download —> Dasar dasar Perencanaan Geometrik Jalan

Password —> dpgj91847

Spesifkasi Umum Bina Marga 2010, 2011 & 2012

 

Katalog : Departemen Pekerjaan Umum
Spesifkasi Umum 2010, 2011 & 2012

Penerbit Bina Marga, Jakarta, 2010

Deskripsi : Rincian Perubahan Spesifkasi Umum 2010 revisi (1) tahun 2011, Spesifikasi Umum 2010 revisi (1) 2011, Spesifikasi Khusus 2012 – SK.Divisi 10 Layanan Pemeliharaan.

Jumlah : 709 hal. – 44044 KB

 

UNDUH

Teknologi ilmu teknik sipil dalam alquran

teknologi ilmu teknik sipil baik pada masa lalu, sekarang maupun masa datang sudah di informasikan dalam kitab alquran.

berikut ini beberapa informasi mengenai teknologi ilmu teknik sipil dalam kitab alquran:

Geologi teknik ( gunung sebagai pasak bumi penahan gempa )
Rekayasa lalu lintas ( sungai dan jalan sebagai penunjuk arah manusia)

” Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. ” QS. An nahl. 16

Bahan bangunan ( Teknologi rumah ringan dari bahan kulit binatang )

“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu). ” QS. An nahl 80

Arsitektur rumah ( Rumah berkonsep alami pada dinding gunung )

‘Dan kamu pahat sebagian dari gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin”. QS. asy syu’araa 149

“dan mereka memahat rumah-rumah dari gunung-gunung batu (yang didiami) dengan aman”. QS. Al kahfi 82

Teknologi gedung dan kolam renang

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih”. QS. Saba 13

Teknologi lampu bohlam penghias rumah

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS Annur 35

teknologi alat transportasi dari bahan cahaya berkecepatan cahaya.

Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS Al hadid 28

kedatangan makhluk asing ke bumi

“Dan apabila perkataan telah jatuh atas mereka, Kami keluarkan sejenis binatang melata dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka, bahwa sesungguhnya manusia dahulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” QS Anml 82

teknologi batu bata

“agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah”.Adz Dzaariyaat 33

teknologi pistol atau senapan dengan peluru, teknolgi rudal dari pesawat

“Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu,” Al israa 68

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. QS Al ankabuut 40

teknologi pipa hidrolyk untuk pengecoran beton pada lantai gedung tinggi

“berilah aku potongan-potongan besi.” Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu).” Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu.” QS Alkahfi 96

Besi untuk beton bertulang

“Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi”. QS AL Hajj 21

proses terjadinya pasir beton

Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan menjadilah gunung-gunung itu tumpukan-tumpukan pasir yang berterbangan. QS Al muzzammil 14

 

Sumber

Arsitek VS Teknik Sipil – Antara imajinasi dan hitungan

 

Arsitek VS teknik sipil siapa yang lebih baik? membandingkan keduanya ibarat mencari kebaikan antara imajinasi dan hitungan, tentu saja keduanya mempunyai fungsi dan kegunaan masing-masing. Namun bagi masyarakat umum mungkin menjawab arsitek yang lebih baik karena kata tersebut sudah menjadi semacam merk brand yang menggambarkan sebuah profesi ahli dalam bidang bangunan, sehingga ada gambaran bahwa untuk mewujudkan bangunan hanya butuh Arsitek saja, hal ini bisa jadi benar ketika bangunan yang dibangun hanya bangunan sederhana dengan bentuk dan penggunaan material standar. beda lagi jika bentuk bangunan aneh sebagai hasil imajinasi arsitek maupun pemilik rumah, akan sangat beresiko fatal jika tidak melibatkan teknik sipil didalamnya. bayangkan saja membangun rumah indah tetapi roboh begitu saja.

 

Perbandingan Arsitek VS Teknik Sipil

No Arsitek Teknik sipil
1 Menciptakan bentuk bangunan yang indah Menghitung struktur bangunan yang kuat
2 Memilih warna dan teksture material sesuai konsep bangunan. Memilih jenis material yang bagus tapi murah
3 Fokus pada perencanaan gambar bangunan Fokus pada perencananaan perhitungan kekuatan bangunan
4 Membuat gambar detail bangunan Mengatur manajemen pelaksanaan pembangunan.
5 Menentukan spesifikasi rencana bangunan Memilih metode pelaksanaan bangunan paling cepat dan hemat.
6 Mempertahankan bentuk gambar bangunan yang sudah dibuat. Menyesuaikan gambar perencanaan dengan kondisi nyata dilapangan.
7 Pada bangku kuliah lebih banyak mempelajari gambar bangunan, menggali keinginan owner, dan cara mempresentasikan agar ide desain diterima. Pada bangku kuliah lebih banyak mempelajari perhitungan struktur bangunan,perhitungan rencana anggaran biaya bangunan serta manajemen pelaksanaan bangunan
8 Ingin bangunan Indah dan menarik Ingin bangunan Kuat dan murah

 

Jika kita lihat perbandingan teknik sipil vs arsitektur diatas maka seringkali ada pertentangan dalam proses kerja, misalnya seorang arsitek sudah capek membuat gambar suatu bentuk bangunan indah ternyata setelah dihitung oleh seorang teknik sipil ternyata bentuk tersebut tidak bisa diwujudkan karena bisa roboh, begitu juga sebaliknya seorang teknik sipil bisa jadi menemukan metode kerja dan pemilihan material yang bagus dan murah namun dalam pandangan arsitek bisa jadi hal tersebut kurang indah dan menarik, jadi diperlukan kerjasama yang baik antara arsitek dan teknik sipil dalam merencanakan bangunan.

 

Kesimpulanya adalah antara arsitek dan teknik sipil sama baiknya, yang terbaik adalah jika mempunyai kemampuan keduanya sehingga selain dapat berimajinasi menciptakan bangunan indah juga dapat merencanakan perhitungan strukturnya, kalaupun tidak sanggup menguasai kedua ilmu tersebut maka diperlakukan kerjasama antara seorang Arsitek dan Teknik sipil untuk mewujudkan bangunan yang Kuat, Indah serta murah

 

Sumber

%d blogger menyukai ini: