Pengaruh Air Laut Terhadap Beton

Beton yang digunakan untuk material struktur bangunan dituntut memiliki sifat yang kuat dalam menahan beban atau gaya-gaya bekerja. Selain itu, beton juga harus memiliki durabilitas tinggi agar beton tidak cepat rusak dan dapat bekerja sebagai struktur untuk jangka waktu lama.
Durabilitas suatu beton dapat berkurang, menurut Murdock (1991), antara lain disebabkan akibat polusi atmosfir di kota besar, akibat serangan air laut, serangan sulfat, erosi gerakan air, atau terbentuknya retak rambut. Karena itu,terhadap bangunan-bangunan yang menggunakan struktur beton bertulang yang berada di lingkungan air laut perlu mendapat perhatian khusus. Seperti pada dermaga struktur beton bertulang yang telah lama dibangun, pada bagian pondasi yang terkena pasang-surut air laut, warna betonnya berubah menjadi putih. Hal ini menunjukkan telah terjadi kerusakan pada beton akibat pengaruh air laut. Menurut Neville (1981) kerusakan beton di air laut disebabkan khlorida yang terkandung di air laut, yaitu NaCl dan MgCI. Senyawa ini bila bertemu senyawa semen menyebabkan gypsum dan kalsium sulphoaluminat (effnngite) dalam semen mudah larut.
Berkurangnya kemampuan durabilitas beton, menyebabkan serviceability beton menurun dalam fungsinya sebagai struktur bangunan yang berdampak umur layanan beton tidak dapat mencapai umur sesuai yang direncanakan. Untuk menjaga perilaku durabilitas beton selama masa layanan, dilakukan penelitian untuk memperoleh solusi beton yang berada di lingkungan yang agresif merusak matriks beton.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan durabilitas beton, yaitu:

  1. mencegah kontak langsung terhadap pengaruh agresif, dengan memberi lapisan pelindung,
  2. menempatkan logam lain sebagai pelindung katoda yang berfungsi sebagai anoda yang memakan karat,
  3. memperbaiki mutu beton, dengan memberi bahan tambahan pada campuran beton, dapat berupa bahan tambahan mineral, pozzolan atau bahan tambahan hasil dari suatu senyawa kimia.

Mutu beton dapat diprbaiki salah satunya dengan cara memberi bahan tambahan lateks emulsion pada campuran beton.
Lateks emulsion atau dikenal sebagai styrene bufadiene adalah lateks hasil dispersi dari partikel-partikel polymer organik dalam air. Bahan lateks emulsion berupa cairan seperti susu dan umumnya berwarna putih, merupakan hasil proses dari karet sintetis dalam bentuk cair. Menurut Walters (1987), lateks emulsion mempunyai butiran 0,05-5 micron atau 50-5000 nanometer, jauh lebih kecil dari butiran semen. Butiran tersebut mampu mengisi pori-pori semen dan menyatu dengan semen sehingga dapat menekan rongga-rongga udara. Umumnya lateks emulsion digunakan sebagai lapisan perbaikan dek area parkir, lapisan perbaikan dek jembatan, bahan pengisi atau sebagai bahan tambalan pada perbaikan mortar.
Menurut Kuhlmann (1987), lateks emulsion sebagai bahan tambahan sangat cocok bila digunakan bersama semen portland, sehingga mudah dicampur saat pembuatan beton, dapat dikeriakan dengan baik pada rasio air semen yang rendah, tidak memerlukan curing yang lama, beton menjadi tidak rapuh karena modulus elastisitasnya lebih rendah dibanding beton normal.

Sumber : Penelitian Utari Khatulistiani, Dosen Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: